|
Pola Peresepan Obat Nyeri Punggung Bawah pada Pasien Rawat Jalan |
|
|
|
|
Written by 01711008 - Dedek Joko Wibowo
|
|
Tuesday, 26 May 2009 |
|
POLA PERESEPAN OBAT NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLIKLINIK SARAF RSUD SRAGEN TAHUN 2006 Satu resep pada umumnya diperuntukkan bagi satu penderita. Pada kenyataannya resep lebih besar maknanya dari yang disebutkan diatas, karena resep merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan dan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi. Kenyataannya dalam praktek, sering dijumpai kebiasaan pengobatan ( peresepan ,prescribing habit) yang tidak berdasarkan proses dan tahap ilmiah tersebut. Banyaknya kasus nyeri punggung bawah di indonesia harus menjadi perhatian kita bersama dan tidak bisa terlepas dari pengobatan.
Tujuan Untuk mendapatkan gambaran pola peresepan obat dan penggunaan obat yang diberikan pada pasien nyeri punggung bawah yang ditemui di Poliklinik Saraf RSUD Sragen .
Metode Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif non analitik untuk mengetahui pola peresepan obat untuk nyeri punggung bawah di Poliklinik Bagian Saraf RSUD Sragen waktu satu tahun dengan data dari semua peresepan pasien nyeri punggung bawah di Poliklinik Bagian Saraf RSUD Sragen terhitung mulai 1 Januari 2006-Desember 2006 dan yang seseuai dengan kriteria inklusi. Hasil Data diperoleh 238 pasien dengan diagnosa nyeri punggung bawah. Dari 238 pasien tersebut terrdiri dari 139 pasien perempuan (58.41%) dan 99 pasien laki-laki (41.59%). Peresepan obat pasien nyeri punggung bawah yang digunakan adalah : Analgetik anti piretik berupa Na Diklofenak, Ibuprofen, dan Asam Mefenamat, Kortikosteroid berupa Metilprenisolon, golongan antasida, anti depresan berupa amitriptilin, anti kejang clobazam, multivitamin berupa vitamin B1, derivate opioid berupa tramadol dan muscle relaxan berupa eperisone HCL.
Golongan obat analgetik antipiretik mulai dari yang paling sering digunakan yang adalah Natrium diklofenak, asam mefenamat, tramadol dan ibuprofen.dan jumlah jenis obat yang paling banyak diresepkan adalah 3 jenis obat. Secara keseluruhan pola peresepan obat terhadap pasien nyeri punggung bawah yang erdapat dipoliklinik di RSUD Sragen Periode 1 Januari 2006-31 Desember 2006 belum sepenuhnya memenuhi standar. Pembimbing Utama dr. Abdul Gofir ,Sp.S Pembimbing Pendamping dr. Endrawati Tri Bowo |
|
Last Updated ( Tuesday, 26 May 2009 )
|
|
|
Tingkat Pengetahuan Mengenai Program Aseskin |
|
|
|
|
Written by 01711117 - TRI WAHYUNI RAMAYANTI
|
|
Tuesday, 26 May 2009 |
|
TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI PROGRAM ASKESKIN PADA KEPALA DESA DI KABUPATEN SLEMAN Perubahan kehidupan ditandai dengan perubahan lingkungan yang cepat dengan kemajuan teknologi informasi yang menuntut kepekaan dalam merespon perubahan yang terjadi agar tetap eksis dalam kehidupan persaingan yang global. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi masyarakat dan perkembangan IPTEK, perubahan pola penyakit, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, membuat para kepala desa senantiasa dituntut untuk memiliki inisiatif dalam memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan masyarakat. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat membawa dampak bertambah pula jumlah pelayanan kesehatan yang dihadapi dalam usaha jasa pelayanan kesehatan dan menambah persaingan. Upaya untuk mencegah terjadinya penurunan pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan, maka kepala desa harus menggunakan manajemen pengetahuan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang kualitas layanan program ASKESKIN yang ada. Aplikasi pengetahuan yang ada di kepala desa pada saat ini masih merupakan aplikasi yang sederhana, yaitu pengetahuan (knowledge) hanya digunakan untuk memfasilitasi distribusi informasi saja, hanya pada lingkup tugas dan pekerjaan, peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan, pengelolaan pengetahuan perubahan lingkungan masyarakat, pendukung dalam pengambilan keputusan, informasi perkembangan pola penyakit, sharing pengetahuan atau pendukung dalam inovasi pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai program ASKESKIN pada kepala desa di Kabupaten Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian semi kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan dilakukan dengan metode cross sectional (survei).
Pembimbing Utama dr. Sunarto, M.Kes
Pembimbing Pendamping dr. Titik Kuntari |
|
|
insidensi dan tingkat kesembuhan penderita tuberkulosis dewasa |
|
|
|
|
Written by 01711103 - Ari Diansyah
|
|
Tuesday, 26 May 2009 |
|
INSIDENSI DAN TINGKAT KESEMBUHAN PENDERITA TUBERKULOSIS DEWASA BTA (BASIL TAHAN ASAM) POSITIF DI KOTA SALATIGA TAHUN 2003
Penyakit tuberkulosis merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 melaporkan bahwa tuberkulosis paru masih merupakan penyebab utama kematian. Berdasarkan SKRT tahun 1995 tuberkulosis menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian setelah penyakit saluran nafas dan kardiovaskuler. Data yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 1999 menyebutkan bahwa angka kematian penderita tuberkulosis tahun 1999 sebesar 1.286 orang dari seluruh penduduk Indonesia, dengan menduduki peringkat tujuh penyebab kematian di Indonesia. Angka prevalensi tuberkulosis secara nasional sekitar 0,29% pada tahun 1999.
Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka insidensi, tingkat kesembuhan dan distribusi penderita tuberkulosis dewasa dengan BTA positif menurut jenis kelamin, umur, hasil akhir pengobatan dan tempat pelayanan kesehatan Kota Salatiga pada tahun 2003.
Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang bersifat retrospektif. Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dalam bentuk data sekunder, dengan cara mencatat apa yang sudah tertulis dalam buku status penderita yang terdapat di buku program TBC nasional di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Salatiga dalam lembar TB. 03.
Hasil Penelitian. Penderita baru kasus tuberkulosis Kota Salatiga tahun 2003 sebanyak 82 penderita, penderita tuberkulosis BTA positif berjumlah 48 penderita sedangkan BTA negatif berjumlah 34 penderita, dari penduduk Kota Salatiga yang berjumlah 108.653 jiwa didapati insidensi penderita tuberkulosis BTA positif sebesar 0,044% dengan tingkat kesembuhan sebesar 87,5%.
Kesimpulan. Insidensi penderita tuberkulosis BTA positif di Kota Salatiga tahun 2003 sebesar 0,044% dengan tingkat kesembuhan sebesar 87,5%. Penderita perempuan lebih banyak daripada penderita Laki-laki, penderita berumur 20-24 tahun merupakan penderita yang terbanyak dan penderita terbanyak terdapat di BP4.
Kata kunci: tuberkulosis, insidensi, BTA positif, deskriptif retrospektif. Pembimbing Utama dr. H. Zuchairi Dahlan, Sp.P Pembimbing Pendamping dr. Utami Mulyaningrum
|
|
Last Updated ( Tuesday, 26 May 2009 )
|
|
|
Biaya Pendidikan Kedokteran : Kuliah, SPP, Catur Dharma FK UII 2009 |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 26 May 2009 |
|
Untuk mengetahui lebih jelas, biaya pendidikan kedokteran di uii, silahkan download file SPP S-1 KEDOKTERAN 2009-2010 , Perkiraan biaya studi S-1 Kedokteran 2009-2010 , dan biaya caturdharma kedokteran uii 2009-2010 |
|
Last Updated ( Friday, 10 July 2009 )
|
|
|
tetap sehat meski tak lulus spmb |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 25 May 2009 |
“TETAP SEHAT MESKI TAK LULUS SPMB…?”
Oleh : dr.Titik Kuntari, MPH
APA yang harus dilakukan oleh seorang lulusan SLTA (meliputi tamatan SMU dan SMK) jika tidak lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) atau Ujian Masuk (UM) Perguruan Tinggi Negeri (PTN)…? Haruskah menganggur selama setahun ini, hingga ada kesempatan mengikuti SPMB pada tahun yang akan datang…?. Diskusi dan renungan tentang aspek ini, memang harus dicermati dengan seksama bagi para peserta SPMB yang kurang beruntung tahun ini, agar waktu selama satu tahun ini tetap bernilai, produktif dan tidak sia-sia. Namun secara prinsip, pemikiran untuk menganggur (dalam arti yang sesungguhnya : tidak mengerjakan kegiatan apapun / kontra produktif), harus dihilangkan. Dan diganti dengan paradigma kerja – mengerjakan apa saja, selama itu positif ; tidak merugikan orang lain dan diri sendiri meski reward (imbalan) yang diterima mungkin jauh dari yang diharapkan. |
|
Read more...
|
|
|
remaja dan ancaman seks pra-nikah |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 25 May 2009 |
REMAJA DAN ANCAMAN SEKS PRA-NIKAH
Oleh : dr.Titik Kuntari, MPH
KETIKA permissivisme (kebebasan) sudah tidak dapat dibendung lagi – Maka, remaja adalah korban langsung dari fenomena tersebut. Ini semua jelas merupakan sketsa buram masa depan bangsa kita mengingat di pundak merekalah masa depan bangsa ini akan kita titipkan. Jika dulu problem utama biasanya ditujukan kepada sejauh mana pemahaman terhadap masalah seks dan berbagai resikonya (pendidikan seks). Memang harus kita akui bahwa pada saat itu, informasi seputar masalah seksualitas terbilang masih sangat minim sekali. Apalagi, masih ada kesan tabu seputar wacana seks untuk didiskusikan – dan transformasi penjelasan masalah ini dari orang tua kepada anak hampir 0 % jumlahnya. Kalaupun ada, biasanya dilakukan pada saat “pembekalan” pra-pernikahan atau khutbah nikah (uler-uler nikah) – itupun disampaikan dengan bahasa yang sangat sumir dan penuh simbol-simbol. Adanya pemahaman tabu-isme ini, memperbesar lingkaran permasalahan di kalangan remaja kita.
|
|
Last Updated ( Monday, 25 May 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|